Laman

0

Kepompong Monyet


”Kalian pernah mendengar Kepompong Monyet??
Belum?? Sama aku juga belum.
Ini aku baru mendengar ketika ku ucapkan sendiri kalimat itu hihi..
Ini adalah kisah cinta monyet sebelum si monyet menjadi kepompong - mengalami fase tidak sempurna – menjadi dewasa di dalam sana – lalu dari ketidaksempurnaan itu tercipta cinta yang luarbiasa.”,


Junior high school.
Disebuah pesta ulang tahun kawan.
Ini bukan kali pertama kita bertemu tapi ini kali pertama mata kita beradu pandang.
Aku yang menari seperti orang gila di tengah pesta, sedang kamu termangu di sudut meja memperhatikan tarianku bagaikan balerina berputar gemulai dimatamu.
Sesekali aku mencuri pandang dari sudut mataku. Kamu menyadari.
Tidak tersenyum tapi masih terpaku ke arah ku. Pandanganmu seperti sayap baru bagiku.
Membuatku merasa terbang tinggi malam itu.

Elementary school.
Ya, sahabatku telah memujamu lebih dulu. Dari jaman itu.
Oh bukan. Bukan sahabatku lebih tepatnya kalian ya kalian yang saling memuja.
Begitu kabar burung yang pernah ku terima.

Kembali ke masa itu.
Junior high school, di pesta ulang tahun.
Keinginanku lah yang ingin menyatukan kalian.
Kamu dan sahabatku.

Sejak pesta malam itu,
Sejak sayapmu membawaku terbang dalam anganmu.
Mulai dari bertukar dan melempar sebuah senyum tipis sampai sesekali bertegur sapa dalam malu.
Entah kenapa tapi seharusnya aku tak perlu merasa malu.
Bercerita dan berbagi kisah lucu lewat kabel telfon yang paling canggih di jaman nya.
Atau sekadar mendengar cerita sehari-hari yang tak pernah terdengar membosankan di telingaku.

Menjadi sering membuat alasan. Menjauh dari kegiatan yang biasa kami habiskan bersama teman- teman hanya untuk bisa berjalan pulang bersama denganmu. Berdua.
Di sepanjang jalan kami selalu bergurau, terkekeh menertawakan hal-hal lucu. Saling meledek atau kadang sambil malu kami saling memuji. Konyol sekali jika itu dilakukan anak seumuran kami. Tapi itu lah kami.
Jika aku merasa malas untuk pulang kamu membawaku singgah ke rumahmu, menantangku mengalahkan permainan-permainan game di komputermu. Atau hanya sekadar menghiburku dengan alunan gitarmu. Sesekali ibu datang membawa kue sambil ikut hanyut dalam dunia kita. Bahagia dan hanya bahagia yang aku rasa.
Sampai pada akhirnya, dalam keheningan ku utarakan betapa serasinya jika ku lihat kamu dan sahabatku kelak.
Kamu hanya tersenyum.
“Mungkin aku dulu pernah memujanya. Aku pikir sekarang pun masih sama, tapi ternyata tidak. Aku telah memuja yang lain”, begitu halus ucapmu ku dengar.
Aku kecewa karena aku gagal.
Gagal karena kamu tidak memberiku kesempatan melihatmu dan sahabatku bahagia.
Terlebih lagi aku merasa kecewa.
Untuk kedua kalinya aku merasa gagal.
Gagal menjaga hati ini.
Karena sungguh lancangnya aku.
Diam-diam berani berharap bahwa pujaanmu yang lain adalah.. Aku.
Aku sadar perasaan ini akan menyakiti hati sahabatku.
Tapi betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya.
Bahkan selangkahpun dia tidak pernah pergi meninggalkanku ketika tahu perasaan ini.
Tidak membenciku melainkan mengerti perasaanku.
Mencoba mendukungku di saat yang lain pergi jauh meninggalkanku.

Karena pada nyatanya, kamu telah dimiliki.
Wanita yang paling beruntung kala itu.
Cantik dan banyak berkawan.
Sungguh pantas bagimu.
Begitulah menurutku.

Bukan inginku.
Jatuh hati pada kamu yang sedang tidak sendiri.
Sekejap kebahagiaanku lenyap ketika seseorangmu merasakankan hadirku ditengah kalian.
Kamu tidak mampu berbuat. Di matamu aku terlalu kuat untuk memikul beban ini sendiri. Padahal aku jauh lebih rapuh dari yang kamu bayangkan.
Sungguh bukan ini yang aku mau.
Terlalu banyak kesalahan yang telah tercipta.
Sejak pilihan jatuh padanya.
Sejak itu juga aku melupakanmu.
Tak lagi menganggapmu pernah hadir dikehidupanku.
Menguburmu dalam-dalam.
Sedalam kapal yang tengah karam.
***
Tak pernah lagi ada tegur sapa.
Bahkan tawa.
Berpapasan saja kamu memalingkan pandangan.
Aku kini yang sendiri.
Terlalu bodoh jika mengharap hadirmu lagi.
Kemudian aku putuskan untuk mulai belajar membencimu.
Dan sepertinya aku berhasil.

***
Senior high school.
Begitu saja terlewati.
Lebih mudah menjalani tanpa perlu melihat kamu setiap hari.
Sengaja mendaftar di sekolah yang berbeda.
Hari baru, seragam baru, kawan baru, dan kisah baru.
Begitulah harapku.

Sama sekali tidak mendengar kabar tentangmu.
Tidak mencoba untuk mencari tahu.
Bahkan mungkin hatiku telah sampai di titik puncak masa bodoh dengan hidupmu.
Terbayang bukan betapa aku berhasil membencimu kala itu??

Setelah bertahun-tahun berlalu.
Kamu menemukanku.
Entah bagaimana cara kamu menemukanku.
Padahal aku sudah merasa hidup jauh dari kamu.
Hidup dan bersembunyi di negeri antah-berantah.
Mungkin kamu telah menempuh perjalanan ber-mil-mil hanya untuk menemukan persembunyianku.

Nyatanya.
Sekarang aku duduk disini.
Dihadapanmu.
Kamu yang ditemani secangkir cappuccino black hot dan sebatang rokok.
Tidak banyak yang berubah denganmu.
Senyummu masih sama.
Senyum yang ternyata paling aku rindukan.
Senyum yang meluluhkan segala benci di hati yang ku kira telah mengakar.

“Kamu tahu? Aroma dan rasa Cappucino black hot selalu sama dari masa ke masa. Begitu kira-kira rasaku untukmu.”, ucapmu memandangku penuh rindu.

Aku menunduk ingin menangis tapi tidak mampu menangis.
Tidak pernah mampu menangis dihadapmu membuatku selalu tampak kuat dimatamu.
Ingin sekali berteriak agar kamu tahu bahwa aku ini rapuh.
“Aku butuh kamu bukan untuk sesaat tapi untuk selamanya”, bathinku menjerit.
Huh tapi tetap saja aku tak mampu karna lidahku terasa kelu.
Sepiring pasta dihadapanku mendingin.
Sebelah tanganmu menggenggamku erat seolah mencoba menguatkan hatiku.
Dan sebelah tanganmu yang lain menyuapkan lilitan pasta di garpuku.
Sore itu rangkuman cerita bertahun-tahun bergantian kami utarakan.
Petualanganmu. Kisah serumu. Masih sama seperti dulu, tidak pernah membosankan untuk selalu ku dengar. Ya.. inilah yang aku rindu.
***
Sudah banyak berubah dari yang terakhir aku kunjungi.
Sebuah rumah yang tak berpindah letak. Tapi tampak semakin teduh dan indah.
Wajah yang terlihat lelah karena usia masih sangat ku kenal dalam ingatanku.
Ibu mu, masih seramah dan sehangat dulu ketika menyambutku.
Sesaat membiarkanku berbincang dengan beliau kemudian kamu menarik tanganku, membawaku masuk dalam sebuah kamar yang telah di sulap menyerupai studio rekaman.
Mempersilakanku duduk di sudut yang telah kamu persiapkan.
Meraih gitar kesayanganmu. Menyalakan perangkat sound system sederhanamu.
Kamu mulai bernyanyi. Lagu-lagu kesukaan kita dulu.
Kamu membuat aku tertawa dengan gaya-gaya lucumu.
Kacamata hitammu mengharap pujiku kamu mirip brad pitt hahaha..
Jangan harap karena jika kamu kenakan maka aku malah tergelitik untuk minta pijit.
Oh betapa pandainya kamu menghibur hatiku.
Beberapa lagu sangat aku kenal tapi tiba-tiba aku terpaku ketika ku dengar lagu yang sangat asing bahkan mungkin baru kali pertama telingaku ini mendengarnya.
Sendu itu aku.
Dan lagu itu aku.
Tentang aku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berat.
Aku merapat ke arahmu.
Aku bersandar di bahumu.
Disaat yang sama lirih ku dengar ucapmu,
“Untuk kamu..”, lagu indah yang sengaja kamu cipta untukku.
Aku memejamkan mata.
Meresapi di setiap lyric dalam alunan nadanya.
Dapat ku baca sebuah bentuk penyesalan dan takut kembali kehilanganku disana.
“Aku masih membencimu”, ucapku datar.
“Aku masih sayang kamu”, ucapnya tanpa ragu seolah kamu tahu ucapanku tadi hanya sekedar dibibirku tidak dihatiku.
“Aku tahu.”, menegakkan kepalaku menatapnya dalam-dalam.
“Cappucino black hot kan?? Aroma dan rasa selalu sama dari masa ke masa?”, lanjutku.
Kamu tersenyum mengangguk ke arahku.

“Persembahan untuk para sahabatku.
Yang sedang atau pernah merasakan cinta monyet.
Cinta monyet yang sekedar cinta monyet
Atau
Cinta si monyet kecil yang tumbuh menjadi dewasa.
Hanya hati kalian yang mampu merasa.
Kepompong monyet adalah sebuah Metamorfosa tidak sempurna tapi aku selalu menikmati proses terjadinya.”


23:54 28/09/2009
Kost Sagan-Yk
*Ditulis kembali dari sepenggal notes di ponselku.
-Ka-

0 komentar:

Back to Top