“Dibalik kesuksesan pria ada doa wanita yang mengiringi langkahnya.”, Kataku sambil merapikan kerah kemejamu yang terlipat. “Ayo sekarang sebutkan siapa wanitamu?”, tanyaku dengan mata mengerling genit ke arahmu.
“Hmm..”, gumammu sambil sejenak kamu seperti sedang berpikir padahal aku tahu kamu sedang berakting. “Jangan marah tapi yaa.. sebab ada tujuh wanita yang akan ku sebutkan.” Bisiknya menggodaku.
“Siapa saja memang?”, aku gantian berakting cemberut agar kamu menyangka aku benar-benar sedang cemburu hihi..
“Yang pertama adalah Ibuku.”, katanya sambil berkaca. “Yang kedua masih Ibuku dan yang ketiga adalah masih ibuku hehe..”, katamu mulai senang membuatku penasaran.
“Yang ke empat?” tanyaku mulai memasangkan dasi kesayanganmu.
“Yang ke empat dan yang ke limaaa…”, kamu melirikku sepertinya semakin senang pagi-pagi berhasil menggodaku. “Si tengah dan si bungsu.. Itu mereka kedua adikku.”, lanjutmu memperhatikanku memasangkan dasi.
“Yang ke enam?”, tanyaku sambil menunggumu melanjutkan ucapan.
“Yang ke enam.. My little angel donk..”, jawabmu langsung ngeloyor menghampiri putri kecil kami yang masih tidur terlelap diperaduan hangatnya.
“Pelan-pelan sayang nanti little angel nya bangun.”, kataku mengingatkannya yang mulai gemas menciumi malaikat kecil kami.
“Yang ke tujuh.. bolehkah aku tidak menyebutnya?? Aku hanya ingin memeluknya.”, ucapmu sambil mendekapku yang sedang berkaca. “Terimakasih untuk semua.”, bisikmu menatapku melalui pantulan cermin dihadapan kami, tatapan yang lebih hangat dari matahari di pagi itu.
“Hey tidakkah kamu bosan setiap hari bertanya hal yang sama, hal siapa saja ke tujuh wanita itu selama hmm.hampir tujuh tahun pernikahan kita?”,tanyamu masih mendekapku.
“Adakah kamu bosan mendengar dan menjawabnya?”, aku balik bertanya.
“Engga.. Dengan senang hati akanku jawab.” Katamu sambil menggelengkan kepala. “Adakah kamu takut kalau nanti jawabku tak lagi sama?”, tanyamu lagi.
“Ya..”, kali ini aku membalikkan badan,sekarang kami berhadapan dan sebentar aku menatapmu dalam. “Tapi aku lebih takut kamu hancur sebab 3hal : harta, tahta dan wanita.”, kataku lalu mematikan siaran televisi yang menyiarkan infotaiment pagi.
Berita seorang tokoh ulama ternama yang nama baiknya hancur dalam sekejap karena telah melakukan perselingkuhan. Kamu tersenyum seperti memahami maksud perkataanku.
“Dengarkan, Hartaku adalah kamu dan kedua anakku, Tahta tertinggiku adalah sebagai seorang Ayah untuk kedua anakku, dan wanitaku adalah kamu istriku.”, katamu melingkarkan pelukkan dipinggangku.
“Selagi kamu mendoakanku disetiap pagiku, insyaallah benar langkahku.”, bisikmu lalu mencium keningku.
“Bapaakkk.. Ayo berangkat nanti kakak terlambat..”, jagoan kecil kami tiba-tiba muncul sudah lengkap berseragam rapi.
“Okay Siap Kapten!”, jawabmu menularkan semangat. “Ayo pamit Ibu sama disayang dulu adeknya. Kita berangkat ya bu..”, pamitmu sekali lagi mencium keningku.
* * *
“Hey Sayang, kenapa dasi ini yang kamu pilihkan untukku??”, tanyamu melalui telefon genggammu, ketika baru tersadar bahwa aku mengenakan dasi pemberianku.
“Sebab hari ini adalah pagi di Tahun Ke Tujuh aku memasangkan dasi untukmu.”, jawabku lembut tersipu.
“Astagfirullah gimana aku bisa lupa??”, katamu setengah menyesal.
“Sebab kamu terlalu sering memikirkan aku hahaha..”, godaku.
“Hahaha kalau gitu sampai bertemu lagi dirumah. Sampai bertemu lagi nanti malam. Malam di Tahun ke Tujuh ketika akuu..”, kamu balas menggoda.
“Selamat bekerja anak nakal hihihi..” aku masih tertawa geli menutup telfon darimu.
Pagi ini sambil menggendong putri kecilku yang sudah terbangun, aku mengucap syukur atas segala karunia dan nikmat yang telah kami terima. Sambil berdoa aku terus berharap semoga tidak hanya di Tahun Ke Tujuh saja hangat ini terasa, semoga tahun-tahun berikutnya akan selalu sama.
Pesan singkat yang ku terima siang ini dari nomor baru yang tak ku kenal.
Tanpa diberi nama dari siapa si pengirim aku sudah tahu dari mana pesan ini datang.
Dari kamu, Serabi Coklat yang hadir manis menawarkan senyum di tengah pekerjaanku yang menumpuk.
Entah energi apa yang tengah merasukiku usai membaca pesan singkat darimu.
Aku terlalu bersemangat menyelesaikan semua sisa tugas kantorku.
Aku terlalu menanti jarum pendek di jam dindingku bergeser ke angka empat.
Aku terlalu menanti bertemu kamu Serabi Coklatku.
Sore itu seperti biasa selalu aku yang lebih dulu sampai di tempat yang sudah kamu janjikan.
Warung Serabi milik bang Maman. Tempat dimana dulu kita banyak menghabiskan waktu di sini. Aku sengaja tidak memesan serabi sebelum kamu datang, karena kita sepakat kalau serabi lebih enak dinikmati di kala hangat.
“Sudah lama ga ke sini Neng?” sapa bang Maman menghantar secangkir teh hangat ke mejaku. Meja pojok dekat jendela menjadi tempat favorit aku dan Si serabi coklat.
“Iya.. lagi sama-sama sibuk bang..”, jawabku beralasan.
“Ah Neng nya aja paling yang sibuk orang si Mas nya masih sering ke sini ko..”, kata bang Maman menumbangkan alasanku.
“Oya? Sama siapa bang dia kalau kesini?”, tanyaku menyelidik.
“Hmm..sendiri terus kalau ke sini Neng.. Udah gitu ya kalau pesen mah bukan rasa coklat kesukaannya tapi rasa keju kesukaan Neng.. Abang kira mau di bungkus buat bawain Neng ga tahu nya di makan sendiri di sini”, cerita bang Maman panjang lebar sedang aku mengangguk-angguk pertanda menyimak apa yang bang Maman ceritakan.
Mobil berhenti persis di depan Warung serabi terkenal di bilangan Jakarta.
“Sory maceet..”, kamu berkata sebelum ku tanya.
Di balik kacamata minusmu, gurat lelah tak mengurangi pesonamu di mataku.
“Lama ya?”, tanyamu merasa bersalah.
“Engga.. Santai aja aku juga baru sampai ko..”, baru saja jawabanku membuat raut wajahmu terlihat lega.
“Bang Maman?”, kamu bertanya seolah bang Maman sudah tahu apa yang akan di pesan.
“Sudah saya siapkan Mas.. Baru di angkat mumpung masih hangat..”, bang Maman tersenyum ke arahku sambil menyerahkan sekotak serabi hangat.
“Lho ko di bungkus?”, tanyaku penasaran karna tak seperti biasa.
“Makasih ya bang..”, sambil membayar dan berpamit serabi coklat menghiraukan pertanyaanku, membukakan pintu mobilnya untuk ku. “Silakan masuk serabi kejuku..”, senyum manismu tersungging.
Aku luluh.
**
“Mumpung hangat nikmat dimakan sambil menemani perjalanan.” Ucapmu sok serius sambil mengemudi di balik setir matamu melirik sekotak serabi yang sedari tadi hanya ku pegangi.
“Oh iya sampai lupa hee..”, baru aku sadar sedari tadi ternyata aku melamun.
Masuk ke dalam mobil ini mengingatkanku akan segala kenangan tentang kita. Ya, Serabi Coklat kamu sepenggal kisah lalu ku. Kisah yang gagal kita bina karena aku, Si Serabi Keju yang mudah goyah. Terjebak akan cinta lalu, cinta sebelum kamu. Sekarang luka itu pun masih tertoreh jelas di hatimu. Aku melihatnya. Sungguh aku menyesal, maafkan aku..
“Emang kita mau kemana?” tanyaku sambil membuka kotak hangat di pangkuanku.
“Jalan-jalan aja.. Udah lama kita ga jalan-jalan..”, jawabmu sambil menyalakan CD player.
Lagu ‘Dia’ - Maliq n d’essentials. Aku meliriknya. Dia membalas lirikkan ku dengan senyum tersungging.
“Sengaja di setting ya supaya jd sebegini romantis?”, tanyaku memuji sekaligus menyindir, senyummu terhenti karena tawamu terpecah mendengar ucapanku.
Kamu bersenandung menyanyikan lagu ‘Dia’ sepanjang jalan.
Terus di putar ulang sepanjang perjalanan tapi heran nya aku sama sekali tidak protes malah setuju dengan kelakuannya hehehe..
“Oh lihat.. Bener-bener settingan yg sempurna..”, aku mengangkat satu bulatan serabi hangat dari kotaknya. Serabi coklat keju. Terdengar tawamu lebih kencang sekarang. Puas akan semua yang sudah kamu rencanakan ternyata membuatku terkejut.
Aku mencari dalam kotak. Barangkali ada serabi keju kesukaanku atau serabi coklat kesukaannya.
“Oh maaf Bu stock serabi keju nya sudah habis hehehe..”, ucapmu bak penjual serabi, seperti tahu apa yang sedang ada dlm pikiranku.
Aku melirikmu terheran dengan penuh tanya.
“Cobalah..”, pintamu.
Aku mencobanya dan.. tidak sanggup berkata-kata setelah menelannya.
Lagi-lagi kamu tertawa puas. “Bang Maman emang jago bikinnya, yang pesen jg cerdas siy hehe..”, pujimu pada diri sendiri sambil terkekeh.
Sepanjang jalan kami bercerita tentang banyak hal. Sesekali aku menyuapimu serabi coklat keju. Dengan keadaan mulut penuh serabi pun kamu masih sanggup bercerita, melucu bahkan bernyanyi. Aku sudah lama tidak merasa senyaman ini. Aku juga sudah lama tidak merasa sesantai ini. Ternyata aku rindu saat-saat seperti ini, saat-saat bersama kamu.
Kamu menghentikan mobil. Pintu mobilpun kamu bukakan untukku. Menuntunku turun memperlakukanku seperti anak kecil agar tidak terjatuh. Begitulah usahamu untuk selalu menjagaku. Mungkin kamu tidak menyadari bahwa itu sangatlah berarti untukku.
Dermaga. Kamu membawaku ke pantai menikmati matahari tenggelam. Sunset.
“Puaskah rencanamu berhasil?”, bisikku membuatmu tertawa menang. “Selamat rencanamu berhasil. Aku luluh.”, tambahku lagi. Kali ini kamu terbahak.
“Benarkah?”. Tanyamu bersemangat. Matamu berbinar. Aku memandangmu, aku melihat ada kebahagiaan di dalamnya. Anggukanku sebagai jawaban pertanyaanmu.
“Kamu ga pengen ngejelasin?”, tanyaku bertanya untuk apa semua ini dia lakukan secara tiba-tiba dan sempurna.
“Cuma kangen pergi jalan-jalan sama kamu.”, jawabmu pendek. Sungguh bukan jawaban yg ku inginkan.
Aku menatapmu. Tatapan menyelidik. “Cuma itu?”, aku mulai mendesak.
“Oh oke..”, katamu akhirnya menyerah. “Tentang serabi coklat keju.” Kamu mulai memberi penjelasan.
“Ya.”
“Aku lelah menikmati serabi coklat sendirian. Mencari letak kenikmatan serabi keju tanpa kamu pun aku tak mampu. Beberapa kali aku mencari tapi ga pernah aku tahu dimana letak keistimewaannya. Apa istimewanya sampai mencuri perhatian seorang kamu. Seandainya aku tahu..”,
“Iya. Bang Maman cerita”, potongku disambut kerutan dikeningmu. “Iya bang Maman cerita katanya beberapa kali kamu kesana pesennya rasa keju terus padahal setahu dia kamu suka nya rasa coklat.”, jelasku.
“Heheh dasar bang Maman bocor..”, ucapmu malu.
“Lalu?” tanyaku mengingatkanmu untuk harus melanjutkan penjelasan.
“Lalu aku special order sama Bang Maman ‘Serabi Coklat Keju’ jadi eksperimen pertamanya dia juga tu nge-mix rasa serabi heheh biar besok dia terinspirasi nge-mix rasa pisang di campur nangka hahaha..”, kami tertawa membayangkan rasanya.
“Jadi gimana rasanya? Aku nunggu komentarmu dari tadi.”, ucapmu jujur.
“Hehe sengaja ga komentar biar kamu penasaran.”,
“Haha dasar curang! Balas dendam ya?”,
“Iya balas dendam atas settingan yang sempurna.” Jawabku.
“Jadi?”,
“Lezaat mamamiaaa lahh pokoknyaa..hahaha..”, jawabku membuat kami tertawa geli.
“Hmmmmpf..” kamu berhenti tertawa dan mendesah panjang.
“Kenapa?”,
“Entah kapan kita bisa kayak gini lagi.”,
Dahiku mengerut, berpikir atas ucapannya.
“Kamu udah ada yang ..”,
“Bukan bukan itu.” Kamu langsung memotong partanyaanku seolah tahu aku ingin bertanya apa. “Bukan karena ada cewe lain atau apa..”, aku menunggu kamu melanjutkan kalimat.
“Kamu inget prinsipku?”, kamu tidak melanjutkan kalimat malah balik bertanya.
“Ya. Kamu ga akan pernah balikan lagi sama mantan kan?”, ucapku getir sambil memandang matahari yang hampir tenggelam di batas garis laut di ujung sana.
“Kecuali aku menikahinya.”, ucapmu tegas masih tetap lembut.
Aku membalas tatapmu. Kamu menunduk kemudian bergantian denganku memandang sang matahari.
“Aku harus ke Jerman mungkin untuk 2 tahun. Kantor yang membiayai sekolahku, ini kesempatan”, ucapmu lirih berusaha menyembunyikan kesedihan yang teramat.. “Selama itu aku gabisa ngiket kamu dengan sebuah hubungan pacaran karena prinsip yang terlanjur mengakar.”, ucapmu terdengar resah.
Seolah ada air kaca di mataku. Kaca itu pecah membasahi pipiku. Aku tak mampu berkata. Baru saja kamu membuatku terbang di ketinggian yang amat tinggi, belum sampai tujuan kamu membiarkanku terjatuh. Sakit.
“Kamu mau aku menunggu?”, tanyaku terisak.
“Sejujurnya aku ragu..”, jawabmu terlihatlukamu dulu ternyata masih membekas dalam.
“Maaf untuk itu..”, aku memintanya tak berdaya.
“Maksudku aku ragu kita bisa. 2 tahun dengan jarak, 2 tahun dengan waktu, 2 tahun dengan batas dan 2 tahun tanpa ikatan.”, ucapmu.
Aku menangis. Menangis lebih karena aku takut jauh dari senyummu. Oh..Aku pasti rindu.
“Kapan kamu berangkat?”, tanyaku.
“Lusa.”, jawabmu sambil menghapus airmataku.
“Secepat itu? Ga bisa di undur? Setidaknya kita masih sempat jalan-jalan lagi.”, pintaku terdengar memohon.
Kamu menggelengkan kepala seolah tak mampu menjawab dengan kata.
Aku mengeluarkan bandul kalung yang ku kenakan. Cincin.
Cincin dari kamu dulu masih aku simpan. Masih aku kenakan meskipun tak lagi di jari tangan.
“Pergilah, biar aku disini menunggu kamu pulang. Menunggu kamu memakaikan cincin ini untuk terakhir kali.”, ucapku menyerah dengan keadaan.
Sebelum buru-buru kamu mendekapku, aku melihat ada air kaca di matamu. Aku tahu kamu sedang menahan kesakitan yang sama. “Aku sayang kamu..”, bisikan itu lirih terdengar ditelingaku. Mataku terpejam, berusaha merekam bisikmu. Bisikan yang kelak akan selalu ku rindu.
“Berjanjilah satu hal.”, pintamu.
“Apa?”,
“Mulai sekarang jangan sibuk sendiri menikmati serabi kejumu. Aku iri. Aku jealous sama serabi keju. Kalau udah makan lupa deh semuanya..”, ucapmu seperti anak kecil membuatku tertawa sementara pipiku masih basah. “Aku ga mungkin nyuruh kamu makan serabi coklat kan?”, tanyamu langsung ku jawab dengan gelengan kepala. “Makanya biar kamu selalu inget aku terus serabi coklat keju bisa ngobatin kangenmu nanti.. hehe..”,
“Serabi kejuku lebih sempurna dengan sedikit coklat. Gurih manis.”, jawabku sambil mengangguk tanda berjanji.
“Asyik sekarang kesukaan kita sama. Hmpf.. semoga tujuan kita juga akan selalu sama.”, desahmu penuh harap.
Aku menatapmu, “Aku pasti bakal kangen..”, ku ucap sambil menghela nafas.
“Iya aku juga.”
“Terus gimana kalau kamu kangen aku? Sementara di Jerman kan belum tentu ada yang jual serabi coklat keju.”, tanyaku membuatmu tertawa.
“Oh iyaya.. Kalau gitu kamu kirimin buat aku lewat paket. Gimana?”, tanyamu mulai melucu.
“Aaaa basi donk sampe sana. Mending aku aja yang dipaketin hehe..”,
“Bolehh itu lebih bagus tapiiii kamu harus belajar dulu bikin serabi coklat keju sama bang Maman. Biar sampe sana bisa masakin buat aku. Kan aku kangen nya sama serabi coklat keju.”, serumu menggodaku.
“Yaah bukan sama aku? Akh..ga jadi kesana aja kalau gitu. Biar aku paketin kamu serabi basi..”, melihatku merajuk kamu malah tertawa.
***
Dua tahun telah berlalu.
Di ujung dermaga yang sama.
Alunan lagu yang sama masih terngiang.
Aku duduk sendiri menanti matahari bersatu dengan garis laut di ujung sana.
Senja itu. Aku melepas harapan. Harapan yang aku jaga untuk kamu yang tak pernah kembali pulang ke dalam mimpiku. Harus ku mulai lagi kisah hidupku meski tanpa kamu.
Ku pejamkan mata. Mencari rekaman bisikanmu disini. Tak lagi sama. Bisik itu semakin samar. Air kaca kembali terpecah rasanya seperti sedang mengulang kejadian 2 tahun yang lalu. Berjuang dengan jarak, waktu, batas dan …Ah bodohnya aku. Karena tanpa ikatan wajar saja bila kedatanganmu hr ini jg dinanti wanita lain. Wanita yang menyambutmu dengan cium dan peluk mesra di pintu kedatangan luar negeri bandara siang tadi.
Aku menangis dan teriak sejadinya.
Bukan karenamu tapi karenaku. Karena kebodohanku.
Perasaanku berangsur lega. Ku hapus airmata. Aku bangkit menjauh dari ujung dermaga.
Seperti matahari yang meninggalkan senja sore itu. Yang menghilang di garis laut.
Aku melangkah. Meninggalkan cincin di atas sekotak serabi coklat keju yang mendingin.
Sagan, Yogyakarta.
Minggu sore 13 Desember 2009/ 18:17 WIB
Based On true Story, Special for you, My Twin-Lailatul Kiftiyah dan Si Serabi Coklat Keju nya
Catatan frustasi penulis :
Sebenernya tgl.13 November 2009 udah mulai di bikin tapi baru dapet brp page mendadak buntu (baru sadar pas liat tanggal ternyata udah sebulan PAS haha) sampai akhirnya yang pesen serabi coklat keju nya protes bru deh gw mulai nulis lagi hehehe.. Eniwe ini buat kamu twin semoga terhibur, segenap jiwa dan raga telah ku curahkanlah pokoknya tapi klu masih standar juga nih tulisan berarti saya harus terus berlatih tanpa henti hoho.. Serabi nya dah jadi buu.. Bayaarrrr!!! Hahaha.. I love you twin.. ^_^
Merdu suaramu menyampaikan syair-syair syahdu yang terkadang sendu.
Dan senyum teduhmu membuatku terlena tinggal disisimu.
Aku seperti kecanduan.
Setiap malam ini yang kulakukan.
Terbang ke planet hanya sekadar menagih dongeng, mendengar syair, dan memandang senyum.
Sampai di barat purnama tenggelam dan menghilang.
Waktu berakhir pertanda aku harus segera pulang.
“Pulanglah dan temukan aku disana.
Sesungguhnya aku hidup dan tinggal di jiwa yang tengah mencintaimu.”, bisikmu setiap mengantarku pulang.
“Tapi di tubuh manakah sesungguhnya jiwamu bersemayam malaikatku?”, dalam isak aku bertanya.
“Ku mohon jangan menangis. Aku akan merasa gagal menjagamu bila aku melihatmu menangis.”, pintamu mengusap air mataku.
“Aku lelah. Aku hanya seorang tak berdaya jika kembali ke bumi sana. Aku butuh kamu bukan hanya dalam gelap tapi juga kala terang. Ku mohon katakan padaku siapa kamu? Ayahku? Ibuku? Saudaraku? Kekasihku? Sahabatku? Siapa??”, mencecarmu membuatku badanku gemetar kencang. Nafasku semakin tak beraturan. Emosi bathin yang meluap tak mampu ku redam.
“Datangkah kamu dari masa lalu ku? Atau kamu hidup di masa sekarangku? Oh aku tahu mungkin kamu membiarkanku menunggu sampai kamu datang di masa depanku.”, aku yang kelelahan menyudahi kalimat terkaanku.
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Binaran sinarmu merengkuh jiwaku.
“Dengarkan aku cahaya rembulanku, tak peduli dari masa apapun aku datang tugasku semata untuk menemani dan menjagamu.
Dengarkan aku cahaya hatiku, pulanglah.. bahkan ku tinggalkan ragaku untuk menemanimu disini. tengoklah ke bumi dan lihatlah ragaku tengah limbung mencari jiwanya.
Tolonglah aku cahayaku.. Bersama kita pulang ke bumi dan janjiku selalu melindungi.”,
“Tapi dimana kamu berada..”, aku mencoba memotong pembicaraan.
“Aku tinggal di jiwa yang tengah mencintaimu.”,ucapmu mengulang kalimat pertamamu yang kini lebih tegas dan jelas namun masih tetap halusku dengar.
Sekejap perwujudanmu menghilang.
Ku tengok purnama segera terbenam.
Ku kenakan lagi sayapku kembali terbang pulang.
Untuk yang ku sebut orang tuaku, keluargaku, sahabatku, kekasihku, teman kecilku dan semua orang di sekitarku, Aku tengah mencari sesuatu di mata kalian. Tatap teduh malaikat penjagaku.. Aku rindu..