Laman

0

Surrender..



“Bernyanyilah untukku..” pintaku lirih padamu.

“Suaraku tak merdu.”, ucapmu halus sambil menggelengkan kepala pertanda enggan.


“Ku mohon bernyanyilah untukku. Aku hanya ingin merekam suaramu dalam ingatanku.”, aku masih tetap memohon padamu, seorang laki-laki yang ku puja lewat melody nya.

“Suaraku akan terdengar sumbang.”, kamu menunduk dari tatapanku. Memetik senar-senar yang selalu menantangmu. Aku seorang seniman bukan karyawan atau pekerja seni, begitulah kamu menyebut dirimu.

“Baiklah aku tidak akan lagi memohon padamu untuk yang ketiga kali keempat kali atau keseratus kali.. tapi ijinkan aku memohon untuk yang terakhir kali.”, ucapku terpotong. Aku mengambil nafas dalam-dalam sedang kamu kembali menatapku menunggu lanjutan kalimatku.

“Teruslah bernyanyi.. Teruslah berkarya.. Sekalipun aku tak mampu mendengar lagi..”, ku tundukkan kepala menghindar dari tatapanmu penuh. Air mataku mengalir.


“Ku mohon jangan pergi.”, ucapmu seperti cenayang selalu berhasil membaca yang berputar dalam benakku. “Aku akan memainkkan gitar ini untukmu tapi jangan pinta aku untuk bernyanyi, bernyanyilah denganku karna aku tak mampu bernyanyi tanpa kamu.”, tangismu tanpa linangan, tertahan.

“Maaf tapi aku harus pergi..”, kuusap bulir yang membasahi pipiku.


Aku memberanikan diri untuk beranjak tapi terhenti dilangkah keduaku.

“Pergilah selama kamu mau, biar aku tetap disini sampai suaraku terdengar merdu karna jika kamu pulang nanti, ijinkan nyanyianku menemani tidurmu.”,

Aku kembali melangkah diiringi alunan nadamu.

Surrender..

Alunan tanpa nyanyian.


Sepi.. seperti aku tanpa kamu..

Sagan 30/10/2009 23:53 (ditemani "Surrender" Andra and The Backbone)
PS : Untuk idola saia, “Buat Kang Andra saia sungguh tergila-gila dengan permainan gitarmu hohoho..”,
0

Hai Jendral!!


Hai Jendral!!


Apa kabarmu di sana?

Di sini kami sangat amat merindukanmu.

Merindukan sosokmu yang selalu hidup dalam anganku.

Walau hanya dapat kudengar dari cerita orang dulu tentangmu.

Hanya dapat ku pandang lukisan gurat letih wajahmu.

Hanya dapat ku baca sejarah-sejarah perjuanganmu.

Ya aku memang tak pernah bertemu denganmu.

Menatap langsung bahkan memeluk tubuh kekarmu.

Sekarang aku di sini tengah merindukanmu,

tengah memuja dan membangga-banggakan jerihmu.


Hai Jendral!!

Apakah kamu bahagia disana?

Harap dan doaku selalu untuk bahagiamu.

Duduk ku di sini mengharap hadirmu kembali.

Bukan kembali berjuang untuk Negara,

Melainkan kembali untuk keluarga.

Hai Jendral,

Lihatlah kami telah tumbuh dewasa di sini.

Wajah-wajah yang belum sempat kau kenali,

Wajah-wajah yang kiranya akan membuatmu bangga di sana,


Hai Jendral,

Sampaikan terimakasih dan salamku untuk para prajurit negeri.

Sampaikan pula salam rinduku untuk pendamping setiamu.

Seorang yang telah banyak bercerita tentangmu.

Seorang yang sempat memeluk bahkan melihat kami bertumbuh.

Seorang yang juga selalu kami rindukan.

Pemilikku,

Jagalah Jendral dan pendamping setianya untukku,

Untuk kami yang selalu menyayangi.

Yk / 04 Oktober 2009 / 16:21

Untuk mbah kakung dan mbah uti tercinta, sayang kami :

*Ferry-Rhony,Melan,Rayyan-Danny,Lisa-Dhiana,Bhimo,Idris-Reza-Yuka-Okko-Qiqi-Tya-Nisa-Dina-Jordan beserta ke enam anak dan menantunya*

NB : Doanya kita kirim ke TMP Kalibata sama TPU Pondok Kopi ya mbah.. ^^,

2

Frozen Yoghourt


Yogyakarta, 09102009

Jumat malam.

Ritual yang tidak pernah kami tinggalkan sejak pertemanan hati kami dimulai.

Sekadar menghabiskan waktu berdua melahap porsi besar sate ayam sambil menunggu pertunjukan theater diputar.

Atau membunuh kebosanan dengan beradu kekuatan di game station.

Malah terkadang jika kami sedang malas, hanya duduk di emper luar ruang theater.

Menunggu di sana sambil bertukar cerita. Berbagi canda.

Ada saat mataku akan lelah mengikuti mata yang tengah cermat mengawasi wanita-wanita sebaya kami mengenakan baju kurang bahan.

Hahaha dasar ulahmu kadang membuatku tertawa sampai terkikik atau malah kadang ulahmu membuatku terpaksa kesal lalu merajuk.

Jumat malam.

Kali ini tidak dengan cara yang sama, yang seperti biasanya kami lewati.

Aku membawamu ke pusat perbelanjaan kota.

Tidak untuk berbelanja.

Tapi untuk makan.

Aku paling suka makan.

Dan aku tahu kamu lebih suka makan daripada aku tentunya.

Hampir satu jam kami duduk di sana.

2 Pan pizza dan 1 piring spaghetti tanpa ampun sudah kami lahap.

Melenggang keluar sambil tersenyum kenyang.

Terhenti sebentar di counter sulap.

Beberapa pesulap memperagakan aksinya.

3 anak kecil berbaju dengan corak yang sama bersorak takjub seolah tak percaya.

Aku menarikmu yang sedang asik turut memperhatikan.

Baru beberapa petak kaki kami melangkah meninggalkan couter salah satu pesulap memanggilku.

“Mbak, ada barang yang terbawa”, ujarnya sambil menunjuk tas yang tersampir dibadanku.

Langkahku terhenti. Mimik mukaku penuh tanya ke arahnya. Sedang kamu hanya tersenyum memperhatikan ekspresiku.

Pesulap itu mendekat ke arahku. “Ini diaa..”, bola berwarna merah ia keluarkan dari tasku. Ketiga anak kecil langsung bersorak kegirangan.

Aku tergelak atas ulah pesulap itu. Kemudian sebagai tanda pamitku, aku tersenyum kearah mereka.

“Kalau cuma segitu aja aku juga bisa..”, bisikmu tak mau kalah.

Kami turun lewat tangga berjalan. Hiruk pikuk orang di akhir pekan meluangkan waktu untuk berbelanja atau sekadar menghabiskan waktu bersama sanak keluarga.

“Kita mau kemana lagi?” tanyamu mengikuti langkahku.

“Situ..”, kutunjuk satu lagi restoran frainchaise berbasis spesial kue donat.

“Hah makan lagi??? Jadi tema jumat malam kita kali ini adalah makan gandum sampe kekenyangan ni?? Ah engga ah aku udah kenyang.” celotehmu enggan.

“Frozen yoghourt? Anggap aja dessert?”, aku menawarimu tapi kamu masih tetap enggan. “Single atau double?”, aku masih kukuh menawarimu seolah tak memperdulikan keenggananmu.

“Single. Buat kamu aja.”, jawabmu melangkah menjauh lebih tertarik pergi ke couter lain.

“Mau kemana?”, Tanyaku setengah berteriak.

“Cari toilet.”, jawabmu samar kemudian berlalu pergi.

***

Frozen Yoghourt Double 3 topping -Blueberry, Nata de coco, Grape.

Akhirnya ku putuskan membeli porsi double, karena tak yakin akan ketidaktertarikanmu pada sebuah menu sekalipun kamu sedang tak berselera.

“Sambil jalan aja..”, ajakmu melongok kearah luar. Trotoar kaki lima, jalan malioboro.

Giliran aku yang menggeleng enggan melihat tumpahan manusia berdesakan disana, bisa-bisa selera makanku hilang bathinku.

Aku melirik ke arah sofa yang lengkap dengan kedua meja bulat di depannya,

“Oke di situ memang lebih baik.”, ucapmu ku sambut dengan senyumku.

“Nyicip?”, aku menawari. Dalam hitungan detik frozen yoghourt double 3 topping langsung berpindah tangan. Aku tergelak melihat ketidaksinkronan antara kelakuanmu yang sekarang dengan keenggananmu tadi.

“Enakan?”

“Ga bisa berhenti.”, jawabmu turut terkekeh malu sendiri.

Tiba-tiba aku terpaku pada meja bulat di hadapanmu.

Di sana tertulis :

“Mochabella…

I listen to your song, softly playing in my heart.

How I love the feelings you give me just like the bittersweet mix of Italian Coffee and Chocolate.”,



Masih dengan melahap semangkuk yoghourt di tangan, kamu menelusuri kemana arah mataku tertuju.

Meja bulat. Pandanganmu terhenti disana. Ku ketuk meja dengan telunjukku.

“Tolong artikan untukku.”, pintaku lembut.

Kamu yang lebih pandai berbahasa inggris ketimbang aku, la

ngsung mengartikan kalimat-kalimat yang terukir di atas meja. Menunjuk kata perkata sambil menerjemahkan perlahan supaya terdengar dan dapat ku pahami.


“Bagus. Sepertinya enak.”, ucapmu menutup rangkaian arti Mochabella.

“Iya. Enak.”, jawabku datar terus memandangi meja.

“Kamu pernah coba?”, tanyamu kembali asyik dengan topping-topping dalam mangkukmu.

“Belum.”, jawabku tetap datar sementara kamu menatapku penuh tanya.

Hatiku mencair, lebih relaks setelah kamu suapkan sesendok yoghourt blueberry ke mulutku.

Kerongkonganku yang sedari tadi tercekat dan mengering kini seolah bersiap menjelaskan kelezatan Mochabella yang aku sendiri belum pernah mencicipinya.

“Sahabatku bilang rasanya enak. Dia menggilai rasanya. Mungkin setiap kesini Mochabella jadi minuman yang wajib di pesan.” – “Seperti kecanduan.” dikalimat terakhir kubesar-besarkan suaraku seperti sedang menakuti anak kecil. Hanya untuk mencoba mencairkan suasana dan aku berhasil. Kamu kembali terkekeh.

“Kalau gitu kamu juga wajib coba. Sana pesen biar aku yang bayar.”, ucapmu antusias langsung mengeluarkan dompet dari saku.

Spontan aku menggeleng keras.

Kamu kembali menatapku penuh tanya.

“Aku takut.” Ucapku membuat kedua alismu terangkat keheranan.

“Aku takut jatuh hati pada Mochabella.”,

Kamu terkekeh untuk kesekian kali nya.

“Oh aku tahu. Kamu takut kecanduan seperti sahabatmu kan? Ya ya aku setuju. Kamu memang ga perlu mencoba Mochabella Freeze.” Sekarang giliran aku yang terheran.

“Aku ga mau sampai tua menghabiskan jumat malam di sini cuma buat nemenin kamu menghabiskan waktu dengan Mochabella. Aku ga mau kehilangan menu jumat malam -sate ayam porsi besarku. Dan yang lebih penting lagi..” kalimatmu terhenti sedang aku masih tetap menunggu kelanjutan ucapanmu.

Kamu menarik nafas panjang sebelum akhirnya kembali melanjutkan.

“Dan yang lebih penting lagi, aku ga akan pernah mengijinkan kamu untuk jatuh hati lagi. Sekalipun pada Mochabella Freeze.”, nada bicara sok seriusmu itu membuatku gantian terkekeh.

“Kamu ga akan pernah kehilangan jumat malammu,Sayang.. Aku juga ga mau tua di sini.. Lagipula kita belum sempat mengganti popcorn dengan ubi rebus sebagai camilan kita di jumat malam..” gurauku membuatmu terbahak.

“Hmm..sesekali aku bersedia nemenin kamu ke sini kalau-kalau kamu rindu frozen yoghourt double 3 topping”, katamu tulus. “Tapi jangan coba-coba kamu ke sini sendiri nyobain Mochabella ya..”, ancammu sambil berakting menakutiku.

“Ampuunn..”, aku yang sok ketakutan membuatmu tergelak.

“Cukup sahabatku yang jatuh hati pada Mochabella.”, ucapku lirih.

“Oh iya ngomong-ngomong arti frozen yoghourt tertulis di meja mana ya?”, tanyamu penasaran.

Aku memandang meja di hadapanku disana tertulis “Coco Loco” lalu aku menggeleng ke arahmu.

“Mungkin di meja cowo ganteng di pojok sana.” tunjukku usil. “biar aku ke sana” tambahku.

“Coba aja kalau kamu berani ke sana hmmm..kalau menurutku sih di meja tante-tante cantik itu. Biar aku tengok”, ucapmu tak mau kalah.

Jumat malam kami habiskan dengan tawa.

“Menurutmu artinya apa?” tanyamu memancing kegilaanku.

“Frozen Yoghourt.. Dinginnya itu melumerkan hati, rasa asem nya maknyuss nendanglah pokoknya..” jawabku asal melahirkan tawa lagi di bibirmu.

“Aku lagi berfikir maknyus dan nendang itu bahasa inggrisnya apa ya?” katamu masih sambil tertawa.

***

Tinggal dalam hitungan jam jumat malamku usai.

Kamu menghantar kepulanganku sampai depan gerbang pintu asramaku.

Setelah mengucap salam dan berpamit langkahku hendak membuka pintu gerbang pun terhenti.

“Hey ada barang yang terbawa..”, katamu setengah berteriak pelan menunjuk kea rah tas ku. Persis mengikuti gaya pesulap di counter tadi.

Langsung ku periksa tasku.

Jepit rambut berbentuk Cherry.

Senyumku mengembang, ku hadiahi pelukan sebagai balasan hadiah kecilmu.

“Tu aku bilang apa. Aku jg bs sulap kan hehehe..”, katamu terkekeh.

“Kapan kamu beli? Kapan kamu masukin ke tasku?”, pertanyaanku menghujanimu.

“Kata kuncinya adalah… toilet hahaha” kami sama-sama tergelak.

“Jepit rambut baruku jangan kamu dudukin lagi ya.. kalau sampai patah lagi aku minta kamu sulapin seribu jepit rambut lagi buatku hahah..” pintaku manja.

***

Ku benamkan wajahku ke dalam bantal.

Ku bayangkan tangan mungilku memaku dan merakit meja bulat persis di restoran tadi.

Setelah jadi kububuhkan ukiran di atasnya :

“Yoghourt Double 3 Topping –Blueberry,Nata de coco,Grape

Mencairkan hatiku yang hampir beku. Membawaku melayang. Membuatku merasakan asam manis nya cinta.”

***

Sementara disepanjang perjalanan pulangmu.

Dalam bathinmu terus mencari arti..

“Frozen yoghourt itu kamu..

Membuatku merasakan jatuh hati tanpa ingin berhenti untuk merasakan nya lagi..”

Begitulah kami mendefinisikan perasaan kami masing-masing, tanpa teks yang menuntun kami merasakan jatuh hati.

Hanya perlu merasakan, maka hati kami yang mengartikan.



Hadiah untuk perjalanan pulang,

Terimakasih karena kamu selalu ada.

Kamu-Aku, Kita, Satu.. ^_^

Semarang, 11092009


0

Kepompong Monyet


”Kalian pernah mendengar Kepompong Monyet??
Belum?? Sama aku juga belum.
Ini aku baru mendengar ketika ku ucapkan sendiri kalimat itu hihi..
Ini adalah kisah cinta monyet sebelum si monyet menjadi kepompong - mengalami fase tidak sempurna – menjadi dewasa di dalam sana – lalu dari ketidaksempurnaan itu tercipta cinta yang luarbiasa.”,


Junior high school.
Disebuah pesta ulang tahun kawan.
Ini bukan kali pertama kita bertemu tapi ini kali pertama mata kita beradu pandang.
Aku yang menari seperti orang gila di tengah pesta, sedang kamu termangu di sudut meja memperhatikan tarianku bagaikan balerina berputar gemulai dimatamu.
Sesekali aku mencuri pandang dari sudut mataku. Kamu menyadari.
Tidak tersenyum tapi masih terpaku ke arah ku. Pandanganmu seperti sayap baru bagiku.
Membuatku merasa terbang tinggi malam itu.

Elementary school.
Ya, sahabatku telah memujamu lebih dulu. Dari jaman itu.
Oh bukan. Bukan sahabatku lebih tepatnya kalian ya kalian yang saling memuja.
Begitu kabar burung yang pernah ku terima.

Kembali ke masa itu.
Junior high school, di pesta ulang tahun.
Keinginanku lah yang ingin menyatukan kalian.
Kamu dan sahabatku.

Sejak pesta malam itu,
Sejak sayapmu membawaku terbang dalam anganmu.
Mulai dari bertukar dan melempar sebuah senyum tipis sampai sesekali bertegur sapa dalam malu.
Entah kenapa tapi seharusnya aku tak perlu merasa malu.
Bercerita dan berbagi kisah lucu lewat kabel telfon yang paling canggih di jaman nya.
Atau sekadar mendengar cerita sehari-hari yang tak pernah terdengar membosankan di telingaku.

Menjadi sering membuat alasan. Menjauh dari kegiatan yang biasa kami habiskan bersama teman- teman hanya untuk bisa berjalan pulang bersama denganmu. Berdua.
Di sepanjang jalan kami selalu bergurau, terkekeh menertawakan hal-hal lucu. Saling meledek atau kadang sambil malu kami saling memuji. Konyol sekali jika itu dilakukan anak seumuran kami. Tapi itu lah kami.
Jika aku merasa malas untuk pulang kamu membawaku singgah ke rumahmu, menantangku mengalahkan permainan-permainan game di komputermu. Atau hanya sekadar menghiburku dengan alunan gitarmu. Sesekali ibu datang membawa kue sambil ikut hanyut dalam dunia kita. Bahagia dan hanya bahagia yang aku rasa.
Sampai pada akhirnya, dalam keheningan ku utarakan betapa serasinya jika ku lihat kamu dan sahabatku kelak.
Kamu hanya tersenyum.
“Mungkin aku dulu pernah memujanya. Aku pikir sekarang pun masih sama, tapi ternyata tidak. Aku telah memuja yang lain”, begitu halus ucapmu ku dengar.
Aku kecewa karena aku gagal.
Gagal karena kamu tidak memberiku kesempatan melihatmu dan sahabatku bahagia.
Terlebih lagi aku merasa kecewa.
Untuk kedua kalinya aku merasa gagal.
Gagal menjaga hati ini.
Karena sungguh lancangnya aku.
Diam-diam berani berharap bahwa pujaanmu yang lain adalah.. Aku.
Aku sadar perasaan ini akan menyakiti hati sahabatku.
Tapi betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya.
Bahkan selangkahpun dia tidak pernah pergi meninggalkanku ketika tahu perasaan ini.
Tidak membenciku melainkan mengerti perasaanku.
Mencoba mendukungku di saat yang lain pergi jauh meninggalkanku.

Karena pada nyatanya, kamu telah dimiliki.
Wanita yang paling beruntung kala itu.
Cantik dan banyak berkawan.
Sungguh pantas bagimu.
Begitulah menurutku.

Bukan inginku.
Jatuh hati pada kamu yang sedang tidak sendiri.
Sekejap kebahagiaanku lenyap ketika seseorangmu merasakankan hadirku ditengah kalian.
Kamu tidak mampu berbuat. Di matamu aku terlalu kuat untuk memikul beban ini sendiri. Padahal aku jauh lebih rapuh dari yang kamu bayangkan.
Sungguh bukan ini yang aku mau.
Terlalu banyak kesalahan yang telah tercipta.
Sejak pilihan jatuh padanya.
Sejak itu juga aku melupakanmu.
Tak lagi menganggapmu pernah hadir dikehidupanku.
Menguburmu dalam-dalam.
Sedalam kapal yang tengah karam.
***
Tak pernah lagi ada tegur sapa.
Bahkan tawa.
Berpapasan saja kamu memalingkan pandangan.
Aku kini yang sendiri.
Terlalu bodoh jika mengharap hadirmu lagi.
Kemudian aku putuskan untuk mulai belajar membencimu.
Dan sepertinya aku berhasil.

***
Senior high school.
Begitu saja terlewati.
Lebih mudah menjalani tanpa perlu melihat kamu setiap hari.
Sengaja mendaftar di sekolah yang berbeda.
Hari baru, seragam baru, kawan baru, dan kisah baru.
Begitulah harapku.

Sama sekali tidak mendengar kabar tentangmu.
Tidak mencoba untuk mencari tahu.
Bahkan mungkin hatiku telah sampai di titik puncak masa bodoh dengan hidupmu.
Terbayang bukan betapa aku berhasil membencimu kala itu??

Setelah bertahun-tahun berlalu.
Kamu menemukanku.
Entah bagaimana cara kamu menemukanku.
Padahal aku sudah merasa hidup jauh dari kamu.
Hidup dan bersembunyi di negeri antah-berantah.
Mungkin kamu telah menempuh perjalanan ber-mil-mil hanya untuk menemukan persembunyianku.

Nyatanya.
Sekarang aku duduk disini.
Dihadapanmu.
Kamu yang ditemani secangkir cappuccino black hot dan sebatang rokok.
Tidak banyak yang berubah denganmu.
Senyummu masih sama.
Senyum yang ternyata paling aku rindukan.
Senyum yang meluluhkan segala benci di hati yang ku kira telah mengakar.

“Kamu tahu? Aroma dan rasa Cappucino black hot selalu sama dari masa ke masa. Begitu kira-kira rasaku untukmu.”, ucapmu memandangku penuh rindu.

Aku menunduk ingin menangis tapi tidak mampu menangis.
Tidak pernah mampu menangis dihadapmu membuatku selalu tampak kuat dimatamu.
Ingin sekali berteriak agar kamu tahu bahwa aku ini rapuh.
“Aku butuh kamu bukan untuk sesaat tapi untuk selamanya”, bathinku menjerit.
Huh tapi tetap saja aku tak mampu karna lidahku terasa kelu.
Sepiring pasta dihadapanku mendingin.
Sebelah tanganmu menggenggamku erat seolah mencoba menguatkan hatiku.
Dan sebelah tanganmu yang lain menyuapkan lilitan pasta di garpuku.
Sore itu rangkuman cerita bertahun-tahun bergantian kami utarakan.
Petualanganmu. Kisah serumu. Masih sama seperti dulu, tidak pernah membosankan untuk selalu ku dengar. Ya.. inilah yang aku rindu.
***
Sudah banyak berubah dari yang terakhir aku kunjungi.
Sebuah rumah yang tak berpindah letak. Tapi tampak semakin teduh dan indah.
Wajah yang terlihat lelah karena usia masih sangat ku kenal dalam ingatanku.
Ibu mu, masih seramah dan sehangat dulu ketika menyambutku.
Sesaat membiarkanku berbincang dengan beliau kemudian kamu menarik tanganku, membawaku masuk dalam sebuah kamar yang telah di sulap menyerupai studio rekaman.
Mempersilakanku duduk di sudut yang telah kamu persiapkan.
Meraih gitar kesayanganmu. Menyalakan perangkat sound system sederhanamu.
Kamu mulai bernyanyi. Lagu-lagu kesukaan kita dulu.
Kamu membuat aku tertawa dengan gaya-gaya lucumu.
Kacamata hitammu mengharap pujiku kamu mirip brad pitt hahaha..
Jangan harap karena jika kamu kenakan maka aku malah tergelitik untuk minta pijit.
Oh betapa pandainya kamu menghibur hatiku.
Beberapa lagu sangat aku kenal tapi tiba-tiba aku terpaku ketika ku dengar lagu yang sangat asing bahkan mungkin baru kali pertama telingaku ini mendengarnya.
Sendu itu aku.
Dan lagu itu aku.
Tentang aku.
Tiba-tiba kepalaku terasa berat.
Aku merapat ke arahmu.
Aku bersandar di bahumu.
Disaat yang sama lirih ku dengar ucapmu,
“Untuk kamu..”, lagu indah yang sengaja kamu cipta untukku.
Aku memejamkan mata.
Meresapi di setiap lyric dalam alunan nadanya.
Dapat ku baca sebuah bentuk penyesalan dan takut kembali kehilanganku disana.
“Aku masih membencimu”, ucapku datar.
“Aku masih sayang kamu”, ucapnya tanpa ragu seolah kamu tahu ucapanku tadi hanya sekedar dibibirku tidak dihatiku.
“Aku tahu.”, menegakkan kepalaku menatapnya dalam-dalam.
“Cappucino black hot kan?? Aroma dan rasa selalu sama dari masa ke masa?”, lanjutku.
Kamu tersenyum mengangguk ke arahku.

“Persembahan untuk para sahabatku.
Yang sedang atau pernah merasakan cinta monyet.
Cinta monyet yang sekedar cinta monyet
Atau
Cinta si monyet kecil yang tumbuh menjadi dewasa.
Hanya hati kalian yang mampu merasa.
Kepompong monyet adalah sebuah Metamorfosa tidak sempurna tapi aku selalu menikmati proses terjadinya.”


23:54 28/09/2009
Kost Sagan-Yk
*Ditulis kembali dari sepenggal notes di ponselku.
-Ka-

Lady Rose



‘Praakk..’
“Kamu ga suka kan? Tu udah aku buang..” suara si laki-laki pada perempuannya terdengar bertengkar dari dalam rumah.

Itu aku.
Yang dilempar laki-laki itu dari jendela.
Aku patah. Aku yang baru saja dimiliki lalu dicampakkan sekarang hancur.
Dasar manusia ga pernah ngerti perasaanku!
Aku terus menggerutu kesakitan.
Aku menangis entah untuk perpisahan yang sangat buruk ini atau hanya karna kesakitanku.
Perasaanku sama berantakannya dengan tubuhku yang kini tak lagi berbentuk.
Aku benci laki-laki itu, yang dulu telah menciptakanku bersama perempuannya.
Bukan perempuan yang sedari tadi bertengkar dengannya tapi..Perempuan yang lain.

Auw! Mereka menginjakku!
Mereka pergi sambil tengah tertawa,
Pertengkaran mereka telah berlalu.
Dalam hidupku merekapun telah berlalu..
Ya.. Berlalu..

Tiga tahun setelah kejadian itu, aku masih hidup.
Seseorang telah menolongku. Seorang manusia tentunya.
Laki-laki pecinta sebangsaku huff..semoga dia tidak lagi membuatku benci dan mengutuk makhluk yang sering di sebut ma-nu-si-a.
Dia merawatku sampai aku merasa sembuh.
Menyambung bagian-bagian tubuhku yang patah.
Menutup dan mencoba menghilangkan bekas luka-lukaku.
Meskipun dia tahu retak ini tidak akan pernah pulih.
Setiap hari dia memandangku. Mengusap debu yang mencoba mengurangi keindahanku.
Dia bahkan menggores warna untukku. Semakin cantik saja aku ditangannya.
Dia membanggakanku pada setiap tamu yang datang berkunjung.
Aku bahagia!!

Tapi tidak untuk waktu yang lama.

Satu tahun berikutnya dia datang bersama sebangsaku yang lain.
Meletakkannya persis disampingku.

Kini aku tidak pernah lagi dipandangnya.
Debu ini dibiarkan menutup dan meredupkan cahaya keindahanku.

Aku sakit.
Sakit ketika dia terus memandangnya.
Terus mengusapnya.
Aku dicampakkan, lagi..

Suatu ketika ada tamu datang berkunjung, dia bahkan memindahkanku.
Ke tempat yang gelap dan tersembunyi. Sungguh bukan tempat yang layak bagiku.
Aku semakin sakit ketika dia menempatkannya ditempatku yang dulu.
Lagi-lagi aku patah.
Lagi-lagi aku hancur.
Bukan tubuhku tapi jiwaku.
Haruskah aku kembali mengutuk makhluk yang di sebut manusia ini?
Tidak. Aku terlalu lelah.

Kini aku berada ditengah keramaian.
Pasar.. Ya aku tengah duduk lesu ditengah pasar loak.
Lihatlah betapa tidak bergunanya aku sekarang sebagai barang loak.

Berhari-hari,
Berminggu-minggu,
Aku merasa kesepian ditengah keramaian..
Sampai akhirnya..
Perempuan cantik ini mengangkatku, menjunjungku tinggi-tinggi lalu tersenyum ke arahku.
Aku merasa hidupku kembali dipenuhi berjuta harapan.
Tanpa menawar perempuan ini membawaku pergi.
Sepanjang perjalanan aku menatapnya penuh harap.
Perempuan ini terus bersenandung, tidak ada gurat kesedihan di wajahnya.

Ajaib!
Seketika kesedihanku lenyap.
Aku tak lagi sendiri.
Kini kembali aku dimiliki.
Kami sudah sampai ke tempat baruku.
Sebuah kamar berukuran 4x5 terletak di lantai.2
Perempuan ini meletakkanku di dekat jendela.
Aku bisa merasakan udara sejuk pagi hari.
Aku juga tidak akan berdiri kebosanan karena bisa memandang keadaan diluar jendela.
Perempuan ini datang mengusapku dengan sehelai kain basah.
Sungguh menyegarkan. Seluruh debuku terangkat.
Perempuan ini senang sekali bersenandung.
Tak hentinya perempuan ini bernyanyi.
Perempuan ini seperti baru saja mendapatkan kebebasan.
Sama sepertiku,
kebebasan dalam kesedihan.
Sesekali perempuan ini bercerita tentang dirinya.
Dia bahkan mengajakku berbicara haha..
Tidak.. perempuan ini tidak sedang gila..
Perempuan ini hanya sekedar ingin berbagi kisah dengan siapapun dan apapun yang ia temui.
Aku semakin menyukai perempuan ini saja.
Dan yang terpenting aku bahagia berada disini.
**
Tujuh tahun..
Ya.. Tujuh tahun sudah berlalu..
Kini 7tahun usiaku sejak laki-laki itu menciptakanku –kemudian menghancurkanku.
Diam-diam aku masih menyimpan marah pada mereka yang telah menyakitiku.
Sudahlah aku tidak boleh lagi larut dalam kesedihan. Sudah lama berlalu.
**
Hey! Setelah sehari penuh beraktifitas akhirnya perempuan ini datang jg!
Mendekatiku, meraihku..
Perempuan ini membawakanku serangkaian bunga.
Untuk diletakkan dan menghiasi tubuhku.

Ya.. Aku adalah Vas..
Dulu aku hanyalah Vas pajangan tak berguna.
Sekarang aku adalah Vas tempat meletakkan bunga-bunga milik perempuan ini.
Lihatlah betapa aku semakin merasa berguna sekarang.

Sepanjang malam,
sambil membersihkan daun-daun yang masih tersisa,
Memotong batang yang sekiranya terlalu panjang,
Perempuan ini bercerita,
Tentang kesakitannya,
Tentang kesedihannya.

Aku terhenyak..
Aku terlarut dalam kesedihannya.
Aku bahkan tidak pernah menyangka dalam keceriaannya tersimpan duka..
Aku memandangnya penuh nanar.
Ketika aku sadari,
Kisahnya tak jauh berbeda dengan kisahku.
Ada kelelahan saat perempuan ini bercerita.
Kelelahan pada kisah hidupnya.
Perempuan ini.. Rapuh..
**
Perempuan ini menutup ceritanya dengan tersenyum puas ke arahku.
Sekarang bunga-bunganya sudah terangkai rapi.
Aku semakin merasa cantik.
Aroma tubuhku pun semakin terasa wangi.
Wangi mawar.

Perempuan ini tak berhenti tersenyum ke arahku
Sebelum akhirnya senyum itu hilang,
Perempuan ini menatapku dalam-dalam.
Memperhatikan bagian-bagian tubuhku.
Perempuan ini menyadari sesuatu, sesuatu yang telah terlupakan olehku.
Tiba-tiba perempuan ini menangis tersedu.
“Kamu ngingetin aku sama Dia.” Ucapnya terisak.

Aku terdiam. Terpaku.
Masih tidak percaya mendengar perempuan ini menyebut namanya.
Nama laki-laki yang sangat ingin kulupakan.
Oh betapa sangat tidak ku duga, aku bertemu, lalu dimiliki dengan salah satu penciptaku lagi.
Dia yang selalu dipandang sebagai Perempuan lain..

Kami sama-sama pernah di cinta oleh orang yang sama.

Buru-buru perempuan ini mengusap air matanya.
Bangkit dari duduknya, menjunjungku tinggi-tinggi.
Kemudian berkata,

“Sekarang aku telah bahagia, dan sekarang aku telah bisa melupakan segalanya..
Segala kesakitanku.. Karena aku telah memaafkan..”

Sempurna!
Decakku penuh kagum.
Aku mendapat banyak pelajaran dari perempuan ini.
Belajar memaafkan, belajar mengikhlaskan..

Kini aku telah memaafkan kalian.
Yang telah mencampakkanku,
Yang telah membuatku patah,
Bahkan kalian yang telah membuatku hancur..
Kini biarlah aku bersenandung dengannya..
Bersenandung untuk perempuan ini..
My Lady Rose..

17:30, 29 Agustus 2009
Yogyakarta, --- Ngabuburit dikamar ^^
0

Tentang Perempuan Hujan


‘Bombat.. bombat.. bombat..’

Jari tengah dan telunjuk laki-laki itu membentuk kaki yang sengaja gerak jalan dari atas lengan perlahan turun ke pinggang si gadis kecilnya. Gadis kecil yang tengah pulas merasa kegelian. Menyipitkan pandangan matanya, terbangun sambil terkikik pelan.

“Dad..”,panggil gadis kecil belum sepenuhnya tersadar dari tidur siangnya.

‘sSsstt..’ laki-laki yang di panggilnya Dad itupun memberi tanda pada si gadis kecil agar tidak bersuara.

Gadis kecil langsung melirik sosok wanita di sampingnya, Mom. Wanita yang beberapa jam lalu mengantarnya terlelap.

***

Gadis kecil itu aku.

Ketika itu umurku baru 7 tahun.

Ini keseharianku : sepulang sekolah - berganti baju rumah - makan - lalu tidur siang. Kadang kalau aku berhasil kabur (biasanya Mom sedang di dapur) aku akan berlari ke rumah tetangga yang waktu itu teman sekelasku. Bermain di sana sampai Mom sadar aku menghilang lalu menjemputku pulang.

Tidak dengan siang ini.

Suatu siang yang akan selalu kunanti-nanti jika musim itu datang.

***

Dad membalikkan badannya, menawarkan punggungnya untuk ku tunggangi.

Dengan perlahan setengah melompat aku berpindah ke punggung Dad.

Berusaha tidak membuat suara yang sekiranya bisa membangunkan Mom.

Beberapa langkah Dad mengendap menuju pintu sedang Mom masih terlihat tidur pulas, paling hanya sesekali menggeserkan tubuhnya mencari posisi tidur yang lebih nyaman.

Yes! Kami berhasil keluar dari ruang kamar Mom. Dad tetap berhati-hati menutup lagi daun pintu kamar Mom.

Dad dan aku terkikik geli merasa berhasil mengelabuhi Mom.

Aku menyandarkan kepalaku di pundak dad. Aku masih merasa lemas. Dad menggendongku, membawaku ke teras rumah.

`‘Bombat.. bombat.. bombat..’ seperti sedang merapal mantra setiap langkah Dad tak henti ku sebut kata itu. Kata yang tidak pernah aku tahu artinya. Yang aku tahu melalui mantra itu kedekatanku dengan Dad terjalin begitu indahnya.

Dad duduk memangkuku di teras rumah. Mendekapku sambil bersenandung merdu. Dapak ku cium aroma wangi parfume dan asap rokok yang tersisa melekat di kemeja Dad. Kami duduk seperti sedang menunggu sesuatu.

Siang itu Dad menyempatkan diri pulang lebih awal dari bekerja.

Entah apa yang sedang ada dalam benaknya.

Aku tidak terlalu peduli, mungkin karena sekarang aku tengah nyaman dalam pangkuannya.

Siang itu tidak terik. Matahari tetap hadir bahkan menyaksikan kami dari balik awan-awan yang sedang berarak tertiup angin.

Angin siang itu terasa basah menerpaku. Setiap hembusannya seperti terkandung bulir-bulir air.

Udara semakin sejuk dibuatnya. Awan mulai gelap.

Bukan hari nya yang semakin senja tapi kawanan awan mendung itu sedang hadir berkunjung.

Aku melihat Dad sedang menghirup udara itu dalam-dalam. Aku pun langsung melakukan hal yang sama bahkan ku ikuti gerakannya.

Dad tersenyum ke arahku.

“Wangi rumput mulai basah”, bisikmu menerjemahkan aroma yang kelak akan selalu ku rindukan.

Aroma yang menenangkan seolah melengkapi dekap nyaman Dad.

Rintik hujan mulai turun. Syahdu kudengar. Angin dan dingin menelusupi tubuh kami.

Dari kejauhan hentakan petir terdengar menyambar, memberi tanda bahwa musim di tahun ke tujuh ku telah di mulai, November.

Aku tetap tenang dalam dekapan Dad yang seolah selalu ingin melindungiku.

“Sebentar lagi waktunya.” bisik Dad lagi, langsung kusambut dengan senyum.

“Boleh Dad?”, nadaku bersemangat.

“Sampai sebelum Mom mu terbangun tentunya..”, ucap dad sambil mengangguk memberiku ijin.

Hujan semakin deras mengguyur kota kecil tempatku tinggal.

Dad menurunkanku dari pangkuannya. Aku langsung berhambur ke arah dari mana hujan itu berasal.

Aku tergelak kegirangan dibawah hujan.

Sedang mata Dad tetap mengawasi keceriaanku siang itu.

Dad mengulurkan payung kecil berwarna hijau kesayanganku.

Aku bersenandung menyambut datangnya hujan.

Aku menari sambil memutar-putar payung.

Kali ini ku bebaskan payung dari tugasnya melindungiku dari hujan.

Bahkan ku biarkan payung itu tergeletak menengadah menampung air hujan bak mangkuk raksasa.

“Daad ayoo..”, ajakku sambil menciprat-cipratkan air dari mangkuk raksasaku ke arah Dad.

Dad yang tengah membuatkanku perahu dari kertas Koran di dekatnya tergelak kaget lalu berusaha menghindar dari seranganku.

Aku tidak begitu saja menyerah. Kutampung lagi air banyak-banyak dalam mangkuk raksasa.

Ku serang lagi Dad yang tengah menyelesaikan perahunya. Merasa tidak mau kalah Dad lalu beranjak mengambil selang, memasang ke kran air dekat ruang garasi. Menyemprotku tanpa ampun. Aku tergelak, terduduk kewalahan menghadapi serangan senjata Dad yang lebih canggih. Ku putar otak, ku ambil payung yang kali ini tak lagi berfungsi sebagai mangkuk raksasa tapi sebagai Tameng! Hahaha.. Dad berdecak atas strategi yang ku gunakan.

Tak terasa siangku beranjak sore. Sebelum menyudahi perang air sore itu dad menghadiahiku sebuah perahu kertas buatannya. Ku raih untuk ku hanyutkan. Dad membukakan pagar bercat hitam dan tinggi untukku. Akhirnya Dad pun kehujanan, aku terkikik senang melihat sekarang kemeja Dad sama basahnya dengan bajuku.

Sebuah saluran air tidak begitu lebar tapi cukup untuk menghayutkan perahuku disana. Ku bebaskan perahu itu hanyut terbawa arus. Kuucapkan selamat tinggal sebelum Dad membawaku masuk.

Benar saja setelah perahu jauh berlayar Dad mengangkatku, menggendong membawaku masuk ke dalam rumah. Aku langsung dibawa nya ke kamar mandi. Bukan perkerjaan sulit bagi Dad untuk melepas baju dan memandikanku. Dad lebih biasa melakukannya ketimbang Mom, bukan karena Mom tidak bisa tapi semata karena Mom harus bekerja diluar kota kecil kami. Terkadang seminggu atau dua minggu sekali baru kembali pulang.

Langkah kaki Mom terdengar menuju dapur. Letak dapur bersebelahan dengan kamar mandi.

“Tumben sudah mandi sayang.. “, sapa Mom tersenyum melihat Dad sedang memandikanku.

Aku dan Dad saling berpandang, kami kembali terkikik seolah hanya kami berdua saja yang punya sebuah rahasia.

Mata Mom tertuju pada seonggok bajuku yang sudah basah. Melihatnya Mom hanya menggeleng kepala, meraih bajuku lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci. Rahasiaku dan Dad terbongkar. Belum lagi Mom melihat ada jejak langkah kaki yang membasahi lantai rumah.

Berbalut handuk besar milik Dad aku berlari kecil, berjalan menepi melewati Mom yang sedang mengepel lantai. Sementara bergantian sekarang Dad yang mandi.

Mom mengambilkan handuk baru untuk Dad lalu menyiapkan teh hangat dan makanan kecil untuk sore kami.

“Jangan sering-sering di ajak hujan-hujan..”, kudengar sayup dari balik dinding kamar tempat aku berganti baju. Mom sedang berbicara lembut pada Dad.

‘Rahasiaku dan Dad benar-benar terbongkar.’ Bathinku kecewa.

“Jangan khawatir tentang sakit. Justru ini supaya daya tahan tubuhnya kuat. Besok kalau pulang sekolah tiba-tiba gerimis, badannya sudah tidak kaget lagi. Biarkan dia bertahan dengan segala keadaan.”, ucap Dad mengerutkan kening Mom.

“Buatkan dia susu hangat, saya mau anak saya kuat dan mampu bertahan” tambah Dad lagi.

Dad menyusulku ke kamar. Aku sudah berganti baju duduk manis di tempat tidurku.

“Mom marah?”, tanyaku khawatir.

Dad menggelengkan kepalanya lalu tersenyum ke arahku. “Mom sayang..” bisik Dad memelukku.

***

Kini aku sudah beranjak dewasa, 16 tahun sudah berlalu.

Telah banyak waktu yang aku lewati, telah banyak pula kenangan tercipta.

Sekarang aku disini, duduk sendiri di bukit jauh dari keriuhan kota.

Aku yang sedari tadi tengah menunggu aroma itu hadir kembali.

Wangi rumput yang mulai basah dan hembusan angin dengan bulir-bulir air lembut.

Suatu ketenangan yang aku butuhkan.

Untuk seorang kesepian.

Untukku seorang kesakitan, sepertiku.

“Biasanya hujan gunung cuma 10 menit”, tiba-tiba kamu datang lalu duduk disampingku.

Seseorang yang entah sejak kapan kamu mengawasiku.

“Aku akan mendengarkan jika kamu butuh teman untuk bercerita, tapi aku akan diam jika kamu butuh teman untuk menemani saat kamu tak ingin bercerita.”, ucapmu sambil tersenyum ke arahku.

Aku membalas senyummu. Meskipun banyak pertanyaan dalam benak yang ingin ku tanyakan seperti ‘Untuk apa kamu berada disini? atau sejak kapan kamu mengikutiku?’ tapi aku memilih diam dan membiarkan kamu menemaniku dalam diam.

Ini membuatku jauh lebih nyaman. Ternyata aku bukan seorang kesepian.

Sekarang ada kamu yang menemani aku, seorang kesakitan.

***

Tidak membutuhkan waktu yang lama sampai aroma itu datang.

Aku menghirup udara dalam-dalam.

“Dia datang..”, aku membisikkan kalimat pertamaku padamu sore itu.

Hujan pertama di awal musim, November ke 23 ku.

Aku berlari kecil kegirangan mencari tanah datar. Berbaring terlentang menghadap langit.

Kubiarkan air menghujaniku. Hanya dengan cara ini aku merasa segala kesakitanku luruh.

Air hujan menelanjangi kesakitanku, aku melihat si sakit kini pergi bersama air.

Hanyut mengalir menjauhiku. Aku merasakan sebuah ketenangan.

Perasaanku lebih baik sekarang.

Sesaat aku baru sadar kamu tengah duduk meringkuk disamping tempatku berbaring.

Tubuhmu menggigil kedinginan. Aku terduduk memandangmu. Kamu tersenyum pucat.

Khawatir kamu sakit aku langsung membungkus badanmu dengan jaketku.

“Jangan-jangan.. kamu saja yang pakai..”, tolakmu malu.

“Kamu yang lebih perlu. Lihat badanmu menggigil kedinginan sementara aku tidak.” ucapku sombong.

“Aku malu.. Aku kan laki-laki, seharusnya aku yang jagain kamu bukan kamu yang jagain aku kayak gini..”, gerutumu kesal pada dirimu sendiri. Kalimatmu tadi membuatku tergelak.

“Kamu ga perlu malu kan ga ada satupun yang tau. Jadi anggap saja sekarang aku sedang menyimpan rahasia besar tentangmu.” Tawaku kembali meledak.

“Terus aja ngeledek aku..”, ucapmu merajuk masih terus menggigil.

“haha.. iya-iya udahan deh ngeledeknya.”

“Kamu lebih cantik tersenyum ketimbang murung.” ucapmu memandangku.

Aku mengalihkan pandangan ke arah jam ku.

“Prediksimu salah tentang hujan gunung. Sebaiknya kita pulang sekarang sepertinya hujan gunung ga baik buat kamu”, kataku kembali terkekeh meledekmu.

“Aarggh.. awas kamu ya tunggu pembalasanku.”, katamu geram, mengejarku yang berlari pergi.

***

“Sayangg.. di minum dulu susu hangat nya..”, ucap Mom keluar menyuguhkan susu coklat hangat .

Kamu yang mengantarkanku pulang. Kupaksa mampir untuk sekedar menikmati susu coklat buatan Mom sambil menunggu langit kembali teduh.

“Hey perempuan hujanku dari mana saja kamu?” sapa Dad mengacak-acak rambutku lalu memberikan dua handuk untuk kami.

“Dari merasakan hujan gunung Dad..”, jawabku melirik ke arahmu.

Kami terkikik, Dad tersenyum mendengar jawabku sedang Mom masih sama dengan 16 tahun yang lalu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Sore itu kami habiskan bersama sampai akhirnya kamu berpamit pulang.

Ku ucapkan terimakasihku untukmu sambil tak lupa berjanji akan menjaga rahasia besarmu.

Pertemuan kita sore itu ditutup dengan bertukar senyum.

***

Aku masuk ke dalam untuk segera mandi.

Dad memandangku sambil tersyum-senyum sendiri.

“Dad? Apa ada yang aneh?”, tanyaku keheranan.

“Oh engga..Jadi sekarang bagaimana perasaanmu?”, tanya Dad menyelidik, masih saja tersenyum-senyum melihatku.

“Perasaanku? Lebih baik tentunya.” Jawabku sambil berlalu pergi menuju kamar mandi.

“Moom.. tidakkah kamu lihat sayang? Senyum perempuan hujan kita hari ini bahkan lebih indah dari pelangi.”, teriak Dad pada Mom yang sedang di dapur. Oh aku mendengarnya Dad.

‘’Aku akan bertahan sekalipun badai hujan datang, Aku akan tegar berjuang sekalipun kesakitan itu menyerang, Dan ketika nyanyian rintik itu mereda, akan selalu ku lukis pelangi untukmu, Dad..’ janji perempuan hujan dalam hati.

Persembahanku untuk Dad ‘n Mom..

Untuk segenap cinta, peluh dan doamu.

Trimakasih telah mendampingiku tumbuh.

I love you.. ^_^

Yogyakarta, 24 Oktober 2009 / 16:27

::Sambil tengah mendengarkan nyanyian hujan dari balik jendela kamarku,

Hujan pertama di jogja mengawali musimku, November ke 23. ::

-Perempuan hujan-

Back to Top